| Detail Buku | Keterangan |
|---|---|
| Penulis | Yusi Avianto Pareanom |
| Penerbit | baNANA |
| Dimensi | 13,8 x 20,3 cm |
| Jumlah Halaman | 470 |
| ISBN | 978-979-1079-52-5 |
Sungu Lembu hidup hanya untuk membalas dendam. Raden Mandasia hidup untuk menyelamatkan Kerajaan Gilingwesi. Takdir mempertemukan mereka di rumah dadu Nyai Manggis, memicu sebuah persekutuan tak terduga. Raden Mandasia, dengan kegemaran ganjilnya mencuri daging sapi, ternyata adalah kunci bagi rencana besar Sungu Lembu. Bersama, mereka memulai petualangan liar menuju Kerajaan Gerbang Agung.
Keduanya terlempar ke dalam serangkaian petualangan mendebarkan: berduel dengan lanun di laut lepas, menyelamatkan pembawa wahyu, berhadapan dengan juru masak yang menjengkelkan dan hartawan rakus, hingga singgah di desa terpencil yang melarang penyebutan warna. Mereka harus berlari dari maut di gurun, menyamar sebagai sida-sida, dan mencari cara untuk bertemu Putri Tabassum yang kecantikannya konon mampu memecahkan kaca. Semua puncaknya mengarah pada sebuah perang besar yang memicu hujan mayat dari langit.
Sebagai dongeng kontemporer, novel ini meminjam khazanah cerita dari berbagai masa, menyajikan narasi yang kaya dan penuh imajinasi. Siapkan diri Anda untuk tertawa, menangis, dan berdecak kagum dalam satu waktu yang bersamaan. Sebuah mahakarya yang telah terbukti meraih berbagai penghargaan prestisius.
Pencapaian:
- Prosa Terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa 2016
- Prosa Pilihan Majalah Tempo 2016
- Fiksi Terbaik Rolling Stone Indonesia 2016
Definisi:
- Lanun: Istilah yang berasal dari bahasa Melayu untuk menyebut perompak atau bajak laut yang beroperasi di perairan Asia Tenggara.
- Sida-sida: Sebutan untuk para kasim atau petugas laki-laki di dalam lingkungan istana (harem) yang bertugas melayani dan menjaga.
- Wahyu: Dalam konteks cerita, merujuk pada pesan atau ramalan suci yang dibawa oleh seorang utuhan, sering kali menjadi pusat konflik.
Informasi Lebih Lanjut dan Pembelian klik di sini.









